fracking di shale gas vs geothermal – II

sekarang, shale gas vs geothermal.

yang dicari orang dalam shale gas adalah gas. yang dicari orang dalam geothermal adalah panas. gas digunakan untuk macam-macam, misalnya untuk memasak di kompor gas. panas dari geothermal digunakan untuk memutar turbin (terutama dalam bentuk uap). seperti yang sudah dibahas sedikit dan dalam link-link di tulisan sebelumnya.

mengapa orang melakukan fracking di shale gas? pertanyaan ini bisa dijawab dengan menjelaskan “porositas” dan “permeabilitas” dalam shale. porositas adalah kemampuan batuan menyimpan fluida atau gas. permeabilitas adalah kemampuan batuan melalukan fluida atau gas. sebuah batuan bisa memiliki porositas yang tinggi namun memiliki permeabilitas yang rendah. kalau batuan seperti shale memiliki porositas yang tinggi, dan dalam porositas itu ada gas yang diinginkan pencari shale gas, maka berikutnya dia akan melihat apakah batuan itu sanggup melalukan gas. sebab, kalaupun ada gas, namun dia terperangkap dalam pori batuan yang tidak saling berhubungan, maka dia terperangkap saja di situ. gambar berikut bisa sedikit menjelaskan porositas dan permeabilitas.

def995c3536dbd4528d05ebb9c6cd949
maaf ya, saya lupa dimana ambil gambar ini. kalau ada yang keberatan, silakan komen, nanti kalau sudah ketemu sumbernya, saya cantumkan. terima kasih.

di sebelah kiri bisa dilihat batuan yang “high porosity”. memang ada fluida di antara butiran batuan, namun sesama butiran saling rapat sehingga fluida tidak bisa lewat. batuan ini tidak bisa melalukan fluida (permeabilitas rendah, nol, atau berapa, ada ukurannya juga nanti kalau semakin detil). yang sebelah kanan, dia bisa melalukan fluida. lihat tanda panah. karena butiran-butiran tidak menutup jalannya. makanya dia disebut “high permeability”.

yang dicari oleh para geolog pencari gas itu adalah batuan yang memiliki porositas sekaligus permeabilitas. shale memiliki porositas, namun rendah permeabilitas. untuk meningkatkan permeabilitas inilah, agar dia bisa melalukan gas, maka fracking dilakukan.

dalam kasus geothermal, yang dicari adalah fluida yang panas. seperti yang disebutkan di bagian sebelumnya, panas bersumber dari dalam Bumi (magma), makanya biasanya yang diburu adalah batuan beku, terutama di sekitar gunungapi. mengapa di sekitar gunung api? karena di wilayah ini aktivitas magmanya dekat dengan permukaan.

fracking dilakukan pada kasus geothermal, pada prinsipnya sama, untuk meningkatkan permeabilitas agar air yang “dipanaskan” oleh batuan yang terpanaskan oleh magma bisa mengalir (batuan itu sanggup melalukan fluida).

sekarang pindah ke akibat fracking. gambar berikut ini lumayan merangkum dampak fracking pada proses eksploitasi shale gas.

shale
sumber: https://www.tni.org/sites/www.tni.org/files/download/fracking_old_story_new_threat_0.pdf

dampak fracking dalam sistem geothermal sudah saya ulas di sini, dimana saya sebutkan ada beberapa (gempanumi minor, pencemaran air, dan amblesan). dalam gambar dampak fracking di shale gas di atas, kita  bisa melihat munculnya gempabumi (earthquake), kebocoran gas, dan pencemaran air. amblesan juga sangat mungkin terjadi dalam kasus fracking di shale gas kalau ekstraksinya semakin tinggi. tidak berbeda jauh dengan logika amblesan di Jakarta atau Mexico City karena ekstraksi air tanah. penting diperhatikan! gempabumi minor dan amblesan lebih erat hubungannya dengan mekanika (berkaitan dengan fisika, gaya, massa, dan akselarasi). sementara kontaminasi lebih erat hubungannya dengan komposisi (kimia).

Namun, yang membedakan misalnya, bisa kita lihat adalah pencemaran air atau bisa juga kebocoran gas. dalam “shale gas” (saya yakin Anda sudah menonton film2 doku di youtube itu dimana keluar gas dari keran air dan menyala), kontaminannya adalah metan (CH4) yang mudah terbakar. karena memang metan ini adalah salah satu komposisi dari shale gas. sementara, kalau Anda perhatikan jenis kontaminan yang ada dalam kasus fracking pada geothermal, ia adalah (misalnya) Arsenik, Antimon, dan Boron.

mengapa perbedaan ini bisa terjadi? di sini kita kembali ke jenis batuan. Arsenik, Antimon, dan Boron biasanya, meski tidak selalu, berasosiasi dengan batuan beku. sementara methane, dalam kasus “shale gas”, dia ada di shale.

semoga kedua posting ini bisa menjawab pertanyaan awal. yang saya lakukan adalah menjelaskan logika dasanya (cara kerjanya). Anda bisa mengembangkannya lebih jauh kalau sudah memahami logika/cara kerjanya. Misalnya, dengan modal google, bisa ditelusuri lebih jauh jenis-jenis kontaminan yang lain, mengapa dia sebutkan dalam gambar di atas shale gas bisa mengkontaminasi air dalam bentuk material radio aktif (Anda bisa lacak tema “radio aktif di alam”).

semoga menjawab.
salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s