apakah geothermal akan mengakibatkan kekeringan?

Tanya:

apakah geothermal akan mengakibatkan kekeringan?

Jawab:

saya ingin memulai menjawab pertanyaan ini dengan mereview dulu terminologi yang lazim digunakan dalam kajian sumberdaya air. tujuannya agar semakin jelas apa yang kita diskusikan. dalam (sebut saja) “krisis” air, sebenarnya bisa dilihat dari dua perspektif. yang pertama dari segi kualitas, yang kedua dari segi kuantitas. sebagai contoh, misalnya Anda memiliki air satu ember, namun tidak bisa diminum karena Anda tidak suka dengan bau dan warnanya. mengacu ke definisi yang dicoba dibangun di atas, ini disebut krisis air karena kualitas air. sementara dalam krisis karena kuantitas air, Anda memang tidak punya air, atau tidak memiliki akses terhadap air. di sini penting ditambahkan bahwa yang tidak Anda miliki adalah akses terhadap air. karena, seringkali krisi air itu terjadi karena tidak adanya akses. air itu sendiri ada, namun orang tidak bisa mengaksesnya. kejadian ini bisa terjadi karena bermacam-macam sebab. diskusi ini tidak akan masuk ke sana.

kemudian, mengenai menurunnya kualitas air sebagai akibat dari aktivitas industri energi geotermal, sudah pernah saya bahas sebelumnya dalam tulisan di link berikut [https://www.academia.edu/9416221/Dampak_negatif_energi_geothermal_terhadap_lingkungan]. jadi persoalan itu tidak akan didiskusikan lebih jauh di sini. kalau Anda ingin tahu, silakan klik link di atas dan lacak pula daftar pusataka yang diacu dalam tulisan itu. jadi jelas, yang akan kita diskusikan di sini adalah “krisis” air akibat geotermal dengan maksud krisis di sini ditinjau dari segi kuantitas. dalam bahasa lain, kalau terjadi krisis kuantitas air, maka itu biasanya kita sebut “kekeringan”.

apakah sebuah industri geotermal akan menyebabkan kekeringan? pertanyaan ini bisa dijawab dari dua arah, karena ia mengandung elemen relatif. yang saya maksud dengan elemen relatif adalah masalah tempat. tentu saja jawabannya tidak akan sama di semua tempat. tempat A yang memiliki sumber air berlimpah akan memberikan respon yang berbeda dengan tempat B yang memiliki sumber air terbatas, terhadap kehadiran industri geotermal. karena relativitas yang ada dalam lokasi dan sumberdaya air setempat ini, maka kita eliminasi faktor ini di sini. maksud saya, kalau mau mendiskusikan suatu kasus, maka perlu dilihat langsung ketersediaan air di lokasi/kasus yang tertentu. namun, perlu diingat bahwa suatu ketersediaan sumberdaya air di sebuah lokasi juga tergantung pada waktu, misalnya apakah musim hujan atau tidak, serta ada banyak variabel dinamis lainnya.

sekarang kita dekati pertanyaan di atas dari arah yang lain, dari arah “kebutuhan air geotermal”. ada perbedaan kebutuhan terhadap air berdasarkan jenis pembangkit listrik geotermal yang beroperasi. karena itu perlu terlebih dulu dijelaskan beberapa tipe pembangkit geotermal. klasifikasi tipe pembangkit geotermal dalam tulisan ini mengacu ke dokumen bertajuk “Water Use in the Development and Operation of Geothermal Power Plants” yang diterbitkan oleh Argonne National Library yang dapat diunduh di link berikut [http://www1.eere.energy.gov/geothermal/pdfs/geothermal_water_use_draft.pdf].

dalam dokumen terkait disebutkan bahwa ada 3 jenis pembangkit listrik geotermal. yaitu: Conventional Hydrothermal Flash System; dalam jenis ini uap yang dihasilkan dari batuan panas di bawah sana langsung diarahkan untuk memutar turbin yang kemudian akan membangkit listrik. dalam jenis ini juga bisa yang dihasilakan dari batuan panas di bawah sana adalah fluida (cairan), bukan uap. maka ia perlu diubah menjadi uap terlebih dahulu (vaporizing). caranya adalah dengan menjebaknya dalam tanki yang memiliki tekanan lebih rendah dari fluida itu sendiri, sehingga ia berubah menjadi uap secara cepat, dan inilah yang digunakan untuk memutar tubin untuk selanjutnya menghasilkan listrik. kedua, conventional hydrothermal binary system; yang dihasilkan juga adalah fluida. ia kemudian dihubungkan dengan fluida lain yang memiliki titik didih lebih rendah dari fluida yang dihasilkan dari dalam Bumi. fluida yang lebih rendah ini yang akan memutar turbin.
tiga, Enhanced Geothermal System (EGS); pada dasarnya juga yang dihasilkan adalah fluida yang didapatkan dengan menginjeksikan fluida ke dalam Bumi, melakukan hydraulic fracturing untuk meningkatkan kemampuan batuan menampung dan melalukan fluida, dan kemudian mengambil fluida yang muncul dari bawah di titik yang lain. skema dalam gambar berikut baik untuk dilihat guna lebih memahami bagaimana produksi energi geothermal bekerja. namun, klasifikasi yang disajikan dalam gambar di link, tidak sama dengan klasifikasi yang dikutip dari dokumen yang disebutkan di atas. tidak masalah, karena yang dibutuhkan adalah untuk memahami cara kerja dasarnya [http://energyalmanac.ca.gov/renewables/geothermal/types.html].

sekarang bagaimana konsumsi air masing-masing jenis operasi produksi geotermal ini? masih menurut “Water Use in the Development and Operation of Geothermal Power Plants”, air dibutuhkan dalam proses produksi geothermal dalam banyak tahap, misalnya, pada tahap pemboran, pembangunan sumur, pemipaan fluida, pembangunan infrastruktur, pdendingan sistem, menstimulasi sumur injeksi, serta mengoperasikan pembangkit. masing-masing memiliki kebutuhan air yang berbeda. perlu diketahui, dokumen ini menggunakan Life Cycle Analysis (LCA), yaitu teknik untuk mengukur dampak lingkungan mulai dari awal hingga akhir sebuah proses yang dianalisis.

untuk angka konsumsi air pada pembangkit listrik geotermal, dapat dilihat seperti pada tabel berikut yang dicrop dari dokumen bertajuk “A Review of Operational Water Consumption and Withdrawal Factors for Electricity” yang dapat diunduh di link berikut [http://www.nrel.gov/docs/fy11osti/50900.pdf].

geotermal

jadi, untuk menentukan apakah akan sebuah industri geothermal mengakibatkan kekeringan, maka diperlukan perhitungan neraca air dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, yaitu, sumber air lokal, dan model produksi energi geotermal. namun satu hal yang jelas adalah geothermal membutuhkan konsumsi air yang tidak sedikit. untuk perbandingan konsumsi air berbagai jenis teknologi pembangkit energi, silahkan cek dokumen di link [http://www.nrel.gov/docs/fy11osti/50900.pdf] pada halaman 7.

semoga menjawab.
salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s