geothermal vs migas, mana lebih mahal?

Tanya:

biaya eksplorasi migas dan panas bumi mahal mana? Sama2 mahal atau ada yg lebih mahal? karena sering digembar-gemborkan biaya eksplorasi & pengembangan panas bumi itu mahal. Ini misalnya: [http://www.esdm.go.id/berita/panas-bumi/45-panasbumi/3029-biaya-pembangkitan-1-mw-listrik-panas-bumi-capai-us-3-juta.html].

Jawab:

saya menyadari tidak mudah menjawab pertanyaan di atas. mungkin untuk menjawabnya dibutuhkan satu disertasi, minimal dari apa yang terlintas dalam kepala saya sehubungan dengan pertanyaan itu. saya sendiri bukan eknom yang terbiasa dengan biaya produksi begitu. namun mungkin proses berusahan menjawab pertanyaan ini bisa saya gunakan sebagai kesempatan belajar buat diri saya sendiri.

ada banyak variabel yang bisa mempengaruhinya, termasuk di dalamnya variabel ruang dan waktu. apa maksudnya variabel ruang dan waktu? ya jelas, pertanyaan di atas akan menimbulkan jawaban yang berbeda di tempat dan waktu yang berbeda. misalnya, soal variabel ruang, kalau akses ke lokasi yang mau dilakukan, katakanlah pemboran geotermal dan “migas” belum ada, maka apakah akan sama “biayanya” dengan akses ke lokasi yang sudah memiliki akses jalan yang lebih baik? atau, apakah biaya yang berkenaan dengan infrastruktur ini dibebankan kepada biaya produksi per kilowatt-hour energi yang dihasilkan atau tidak?

kemudian misalnya soal akses terhadap lahan. tentu saja tidaklah sama harga lahan di daerah yang berbeda, yang mana harga lahan ini juga masih tergantung banyak hal, misalnya saja, tingkat kesuburannya, seberapa miring ia karena ini akan menentukan peruntukannya, akses terhadap air yang ada di sana, dan lain-lain. semuanya ini tentu akan menentukan harga lahan yang akan dipakai. ini hanya contoh saja betapa banyak variable yang berhubungan dengan harga energi per kilowatt-hour baik yang dihasilkan dari geotermal, maupun “migas”.

namun, sebelum lebih jauh melangkah, mungkin ada baiknya juga kembali diurai masalah terminologi. apakah yang dimaksud dengan “migas” dalam pertanyaan itu adalah “minyak dan gas” atau “minyak” saja, atau “gas” saja. karena, jelas, mereka adalah hal yang berbeda. untuk lebih jauh soal perbedaannya, bisa dibaca misalnya “Outlook Energi” yang diproduksi oleh Dewan Energi Energi Nasional yang ada di link berikut [http://www.den.go.id/upload/outlookenergi/file/outlookenergi.pdf], pada halaman 96-98.

berita di atas yang menjadi pemicu perbedaan harga geotermal dan “migas” menyebutkan:

Direktur Utama PT. Pertamina Geothermal Energy (PT. PGE) Abadi Poernomo memaparkan, untuk membangkitkan 1 MW listrik panas bumi dibutuhkan dana sekitar US$ 2.5 juta hingga US$ 3 juta.
“Sebuah sumur rata-rata dapat membangkitkan 4,8 MW, sehingga dana yang dibutuhkan setiap sumurnya mencapai US$ 12 juta hingga US$ 14.4 juta”, ujar Abadi Poernomo dalam “Seminar Panas Bumi 2009” di Hotel Melia, Nusa Dua, Bali (3/12).

sayang sekali tidak dijelaskan darimana angka yang ada di dalam berita itu muncul. hanya disebutkan angkanya. namun memang mungkin berita itu seperti itu. untuk masuk lebih dalam perlu digali lebih dalam juga. untuk mempermudah diskusi, maka kita bandingkan saja harga produksi energi geotermal dengan minyak (oil).

saya cuma akan mereview singkat sebuah makalah bertajuk “A Comparison of Geothermal with Oil and Gas Well Drilling Costs” yang dapat diunduh di tautan berikut [https://pangea.stanford.edu/ERE/pdf/IGAstandard/SGW/2006/augustin.pdf]. mungkin dengan melihat data biaya pemboran ini akan bisa menjadi titik awal untuk menjawab pertanyaan itu. dalam artikel ini dia simpulkan,  bahwa ada banyak faktor yang mengontrol biaya pemboran, seperti kedalaman, diameter, disain casing, dan karesitik khusus dari lokasi. satu poin yang menarik dari tulisan ini adalah “the cost of drilling and completing HDR and hydrothermal wells is considerably more expensive than for oil and gas wells over the depth intervals considered…., the cost of geothermal wells is often 2-5 times greater than cost of oil and gas of comparable depht” [catatan: HDR: hot dry rock].

terlihat dari situ bahwa memang dia menekankan salah satu sumber perbedaan biaya pemboran adalah jenis batuan. geotermal biasanya berasosiasi dengan batuan beku yang panas dan miskin air kalau tidak ada rekahan-rekahan pada batuan. ini sebabnya dia sebut dengan “hot dry rock”. sementara minyak dan gas seringkali berasosiasi dengan batuan sedimen yang tingkat kekerasannya lebih rendah dan biasanya mengandung air karena adanya pori batuan pada batuan sedimen.

apa yang dibahas baru dari variabel biaya pemboran. bagaimana dengan variabel lain yang sempat dibicarakan di atas? misalnya akses ke dan harga tanah di sekitar pemboran? apakah itu tidak dimasukkan ke dalam biaya produksi energi per kilowatt-hour? saya kurang menguasainya. namun rasanya ini bisa menjadi pengantar yang bagus kalau mau memperdalam pertanyaan ini. mungkin membuat skema sendiri, menenetukan dan menjelaskan variabel yang dipilih dalam menentukan harga, akan sangat menarik.

salam
semoga sedikit menjawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s